Pemerintah China Lakukan Gerak Cepat Cegah Meluasnya COVID-19 Varian Delta

 

Galaxy Tangkas - Seorang penumpang mengenakan pakaian pelindung diri melintas di Bandara Tianhe yang baru dibuka kembali di Wuhan, Hubei, China, Rabu (8/4/2020). Ribuan orang bergegas meninggalkan Wuhan setelah otoritas mencabut kebijakan lockdown selama lebih dari dua bulan di lokasi yang diketahui sebagai episenter awal virus corona tersebut.(AFP/HECTOR RETAMAL)


Pemerintah China melakukan gerak cepat untuk mencegah meluasnya COVID-19 varian Delta. Mereka terus menggenjot vaksinasi COVID-19 bagi warga. Data per Kamis (16/9/2021) menunjukkan, sudah lebih dari satu miliar warga China yang menerima vaksinasi lengkap dua dosis. 


Dikutip dari laman France24, angka itu sama saja dengan sejumlah 71 persen dari jumlah warga China yang perlu divaksinasi. Langkah cepat itu seolah berpacu dengan waktu karena otoritas setempat tengah mengatasi klaster baru di Provinsi Fujian. 


Berdasarkan data resmi, COVID-19 varian Delta telah ditemukan menular ke 200 orang di tiga kota. Puluhan diantaranya adalah anak-anak sekolah. 


"Berdasarkan data per 15 September 2021 2,16 miliar dosis vaksin telah diberikan secara keseluruhan di tingkat nasional," kata juru bicara Komisi Nasional Kesehatan China, Mi Feng ketika memberikan keterangan pers. 


Jumlah ini adalah kemajuan signifikan dibandingkan bulan Agustus. Pada bulan lalu, sudah ada 890 juta warga yang divaksinasi COVID-19 dan menghabiskan dua miliar dosis. 


Pemerintah China secara resmi belum mengumumkan berapa jumlah warga mereka yang harus menerima vaksin COVID-19 agar tercipta kekebalan kelompok. Tetapi, ahli virus ternama Zhong Nanshan pada bulan lalu memprediksi, China akan mampu memberikan vaksinasi ke 80 persen warganya pada akhir 2021. 


Gerak cepat China dalam memberikan vaksin dipuji oleh dunia internasional. Laman CNBC Internasional melaporkan, semula butuh waktu 25 hari untuk meningkatkan pemberian 100 juta dosis ke 200 juta dosis.


Namun, untuk menggenjot pemberian vaksin hingga 100 juta, China cuma butuh waktu enam hari. Lalu, bagaimana dengan gerak pemberian vaksin COVID-19 di Indonesia?


Indonesia baru berikan vaksinasi ke 15,9 persen penduduk


Mengutip Our World in Data, per 15 September 2021, jumlah cakupan vaksinasi COVID-19 di Indonesia baru mencapai 15,9 persen. Angkanya jauh bila dibandingkan dengan cakupan vaksinasi yang telah dilakukan di Malaysia yang mencapai 55,8 persen. Bahkan, Singapura telah memberikan vaksinasi lengkap kepada 78,6 persen. 


Meski vaksinasi masih rendah, namun pemerintah mulai untuk melakukan pelonggaran pembatasan aktivitas masyarakat sejak bulan lalu. Data Satgas Penanganan COVID-19 menunjukkan pada Kamis kemarin, ada 1.012.763 warga yang menerima vaksin dosis pertama. 


Sehingga, akumulasi pemberian vaksin COVID-19 dosis pertama mencapai 76.153.487 warga. Sedangkan, vaksinasi dosis kedua pada Kamis kemarin diberikan kepada 522.331 orang, akumulasinya menjadi 43.484. 971 orang.


Sementara, vaksinasi dosis ketiga telah diterima secara akumulatif 819.174. Sayangnya, vaksinasi dosis ketiga atau booster ini tak semuanya diterima oleh tenaga kesehatan. Temuan organisasi pemantau wabah LaporCovid-19 menunjukkan banyak vaksin booster yang diterima warga non-nakes. 


Penurunan kasus COVID-19 di RI dalam 2 minggu dipuji sebagai salah satu yang terbaik


Walaupun vaksinasi di Indonesia tergolong rendah, namun kasus harian di Tanah Air terus mengalami penurunan. Bahkan, dalam catatan John Hopkins University, penurunan dalam dua pekan mencapai 58 persen. Hal itu kemudian menuai pujian dari dunia internasional dan disebut sebagai salah satu penurunan yang terbaik di dunia. 


Satgas Penanganan COVID-19 juga menyebut angka positivity rate di Indonesia sudah berada di bawah ketentuan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yakni di bawah lima persen. Berdasarkan data Satgas Penanganan COVID-19, positivity rate di tingkat nasional sudah berada di angka 2,57 persen. 


Juru Bicara Satgas, Wiku Adisasmito, menyebutkan bahwa rata-rata kematian harian di Indonesia juga menurun drastis yakni berada di angka 563 jiwa. Pemerintah juga bertekad menihilkan angka kematian. 


"Meskipun satu kematian tetap saja terbilang nyawa dan tidak bisa dibiarkan," papar Wiku ketika memberikan keterangan pers virtual dan dikutip dari kanal YouTube BNPB pada 7 September 2021. 


Di sisi lain, dokter Adaninggar di akun Instagramnya mewanti-wanti agar publik tidak jumawa dan euforia melihat penurunan kasus ini. Ia mengajak belajar dari situasi di India. 


"Ingat dulu India juga pernah dipuji-puji seperti ini tapi kemudian menjadi episenter COVID-19 di Asia. Suatu keberhasilan kadang tidak hanya menjadi suatu anugerah, namun bisa juga menjadi ujian," ujar Adaninggar yang dikutip pada hari ini. 


AS menjadi negara di peringkat pertama yang sumbang angka kasus harian COVID-19 tertinggi


Sementara, mengutip data dari World O Meter pada hari ini, Amerika Serikat menduduki peringkat pertama yang menyumbang kasus harian COVID-19 tertinggi di dunia, yakni 148.959. Maka, total ada 42.631.871 orang di AS yang sudah terpapar COVID-19.


Padahal, Negeri Paman Sam sudah mulai melonggarkan protokol kesehatan. Di sejumlah daerah, warga tak lagi wajib mengenakan masker bila berada di area terbuka. Angka kematian harian tertinggi juga berada di AS yakni 1.859 jiwa. 


Di bawah AS, terdapat India yang menyumbang angka kasus harian COVID-19 34.649. Kemudian disusul Brasil dengan 34.407 kasus baru, Turki dengan 28.118 kasus baru dan Inggris dengan 26.911 kasus baru. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.